Blog EntryAda Apa dengan Film Kita...Feb 18, '08 10:24 AM
for everyone
Kompas,minggu 14 jan 2007

Ada Apa dengan Film Kita...
                                                  BRE REDANA

Film ”Ekskul” yang disutradarai Nayato Fio Nuala diributkan karena musiknya sangat mirip film Korea, ”Taegukgi” (2005). Soal ”kemiripan” dengan film luar negeri, sebenarnya terjadi pada banyak film Indonesia, bukan saja pada musiknya, tetapi juga gayanya, bahkan dengan seluruh unsurnya. Sikap suka meniru ini, jangan-jangan memang melekat pada dunia perfilman Indonesia. Atau, yang terjadi di dunia film itu cermin semangat epigonis masyarakat kita?


Soal musik terlebih dahulu. Coba Anda senandungkan lagu Love Story dari film dengan judul sama, seperti ini: ”Where do I begin....” Setelah itu, senandungkan lagu dari film Pengantin Remaja (1971) yang disutradarai Wim Umboh. Dendangkan lagu dari film itu yang digarap oleh Idris Sardi: ”Romi dan Yuli....” Hayo, bagaimana kedengaran melodinya? ”Agak” mirip kan....

Belum lagi film itu secara keseluruhan. Pada masanya, film ini memang dianggap ”jiplakan” Love Story (1970) garapan sutradara Arthur Hiller. Wim Umboh sendiri, seperti dicatat oleh JB Kristanto dalam Katalog Film Indonesia 1926-1995, mengaku, ia diilhami oleh cerita Romeo and Juliet. Pengantin Remaja menerima penghargaan Golden Harvest Award, FFA 17, tahun 1971 di Taipei untuk Film Terbaik. Widyawati sebagai pemeran utama wanita menjadi Runner Up Aktris Terbaik PWI 1971- 1972.

Tulisan ini tidak hendak mempersoalkan apakah sebuah karya ”diilhami”, ”diadaptasi”, ”diterjemahkan”, ”dipengaruhi”, ”dirasuki”, ”diindonesiakan”, atau ”dicontek” dari film luar negeri. Di sini cuma akan diperlihatkan, sejumlah film yang rasa-rasanya mirip dengan film luar negeri. Mirip ini pengertiannya: kalau kita menonton film itu, tiba-tiba kita jadi teringat film lain.

Taruhlah kalau kakek kita, pada tahun 1950-an menonton film Djandjiku (1956), yang diproduksi Persari (perusahaan film ini digerakkan oleh salah satu perintis film Indonesia, yakni Djamaluddin Malik). Orang yang akrab dengan film-film India pada masa itu niscaya akan langsung mengasosiasikan Djandjiku dengan film India Vachan, yang dalam bahasa Indonesia artinya memang ”janji”.

Kembali pada buku Katalog Film Indonesia, di sini ditulis, Dalam keadaan dilanda popularitas film India, Persari mendatangkan 12 teknisi India. Jadilah film ini yang merupakan sebuah ’film India terjemahan Persari’, tulis sebuah majalah. Menurut buku itu, koran lain berkomentar, Film ini lebih tepat dinamakan film India dengan pemain Indonesia. Pemain-pemain dalam film itu adalah Rd Mochtar, Titien Sumarni, A Hadi, Awaludin, dan Tina Melinda.

Masih di masa para perintis, baik juga diingat karya Usmar Ismail, Tamu Agung (1955), yang juga diproduksi Perfini. Film ini mengambil cerita dari Nikolai Gogol. Sebelum itu, di Amerika muncul film dengan sumber cerita yang sama, yang digarap oleh sutradara Henry Koster, dengan judul The Inspector General (1949).

Dari lapisan perintis, kita masuk ke generasi berikutnya. Tahun 1961, muncul film Kasih Tak Sampai (Turino Djunaidy) produksi PT Sarinande Films. Film itu, bagi yang mengingatnya, adalah Imitation of Life (1959) dari Universal International yang disutradarai Douglas Sirk. Penokohannya mirip-mirip, yakni dua gadis remaja, satu anak majikan, satu anak pembantu, yang sebetulnya adalah saudara kembar. Dalam Imitation of Life, salah satu si remaja adalah Sandra Dee, sedangkan dalam Kasih Tak Sampai sosok itu adalah Rima Melati. Sosok pembantu dalam Imitation of Life diperankan bintang kulit hitam, Juanita Moore, dalam Kasih Tak Sampai sosok itu diperankan pesinden Sunda terkenal saat itu, Upit Sarimanah—yang kebetulan sebagai orang Sunda juga tak putih-putih amat kulitnya.

Tahun 1970-an—yang disebut sebagai booming film Indonesia— selain Pengantin Remaja, ada sejumlah film lagi yang mengingatkan pada film-film luar negeri. Sebut, misalnya Kemasukan Setan (1974), sutradara Lukman Hakim Nain, yang tentu mengingatkan orang pada The Exorcist (1973) karya sutradara William Friedkin. Kisahnya memang betul-betul mirip. Kalau dalam The Exorcist yang kemasukan setan adalah Linda Blair, dalam Kemasukan Setan yang kerasukan Dewi Rosaria Indah.

Daftar masih bisa diperpanjang di periode 1970-an, yang terus berlanjut di era-era berikutnya. Film tahun 1980, Nakalnya Anak-anak (Susilo SWD) adalah The Sound of Music (1965), Bercanda Dalam Duka (1981, sutradara Ismail Soebardjo) adalah Xiong sha/Homicides Criminal Part II (1976), dan seterusnya. Lalu, tahun 1992 ada Asmara (Adisoerya Abdy) yang mengingatkan No Small Affair (1984).

Kalau kemiripan-kemiripan itu berlangsung sampai sekarang, akhirnya kita melihat, dari urutan ”bapak” pada tahun 1950-an, dilanjutkan taruhlah ”anak” di tahun 1960-an/1970-an, lalu ”cucu” di tahun 1980-an, dan ”cicit” di era 2000-an, semuanya suka ”memirip-miripkan” filmnya dengan film asing.

Ada apa dengan film kita? Ada apa dengan bangsa kita


Sejumlah Film Indonesia yang Mirip Film Luar Negeri



Tamu Agung (1955)-The Inspector General (1949)

Djandjiku (56)-Vachan (1950-an)

Kasih Tak Sampai (1961)-Imitation of Life (1959)

7 Pahlawan (1963)-The Magnificent Seven (1960)

Pengantin Remaja (1971)-Love Story (1970)

Kemasukan Setan (1974)-The Exorcist (1973)

Kehormatan (1974)-Daag

Kawin Lari (1974)-The Glass Menagerie (1950)

Leila Majenun (1975)-West Side Story (1961)

Nakalnya Anak-anak (1980)-The Sound of Music (1965)

Bercanda dalam Duka (1981)-Xiong sha/Homicides Criminal Part II (1976)

Bila Hati Perempuan Menjerit (1981)-Lipstick (1976)

Manusia Enam Juta Dollar (1981)-The Six Million Dollar Man (1973/1974)

CHIPS dalam Kejutan (1982)-C.H.I.P.S (1977)

Pesona Natalia (1986)-Return to Eden (1986)

Asmara (1992)-No Small Affair (1984)

Diambil dari salah satu forum

38 CommentsChronological   Reverse   Threaded
faridrock wrote on Feb 18
plagiator!
rawins wrote on Feb 18
Kebiasaan yang sudah berubah menjadi budaya...
Menyedihkan...
tembangpribumi wrote on Feb 18
plagiator!
sejak dulu!!
tembangpribumi wrote on Feb 18
rawins said
Kebiasaan yang sudah berubah menjadi budaya...
Menyedihkan...
Kalimatmu pas bener mas..................
inyong wrote on Feb 18
soale gak mumet kalo niru dan gampang idenya
zdanska wrote on Feb 18
Belum lagi di sinetron mbak hehe.... Jijay bajay :P
nggambleh wrote on Feb 18
Kayaknya rata-rata disemua industri perfilman dunia prinsipnya hampir sama deh, ngambil sini jual sana. Untuk Amerika: the departed, the ring, godzilla, taxi cs. Hongkong malah mbahe tiru-tiru, india ra ngikuti, Eropa ra nduwe referensi .... heheheh
rozny wrote on Feb 18
miskin tema
amaltiagunawan wrote on Feb 18
luweh,,,,,,wong aku nontone ming tukul,,,,,,anggere tukul ora tiru tiru wae,,,
jz12bhp wrote on Feb 18
film2 barat yo wis diadaptasi wong Jowo, misale :
die hard ---> angel matine
mission impossible ---> utusan sing tangeh lamun
taxi driver ---> supir taksi
the gladiator ---> tukang gelut
smackdown ---> bantingan
lan liyo-liyane.......
amaltiagunawan wrote on Feb 18, edited on Feb 18
jz12bhp said
film2 barat yo wis diadaptasi wong Jowo, misale :
die hard ---> angel matine
mission impossible ---> utusan sing tangeh lamun
taxi driver ---> supir taksi
the gladiator ---> tukang gelut
smackdown ---> bantingan
lan liyo-liyane.......
bwahahahahhahahahahhaha,,,,,,ketoro nek jogja
jsops wrote on Feb 18, edited on Feb 18
Puisi Ada apa Ada

Ada apa film Indonesia , apa ada film Indonesia
Ada apa musik Indonesia , apa ada musik Indonesia
Ada apa Indonesia , apa ada Indonesia
Ada apa orang Indonesia , apa ada orang Indonesia

Ada apa mbak tiwi , apa ada mbak tiwi
wong mbak tiwie itu istri saya , dia sedang garuk-garuk kepala
Jadi santai saja dan mari ber "ha ha ha" sebab semua orang sudah pusing kepalanya .
tembangpribumi wrote on Feb 18
inyong said
soale gak mumet kalo niru dan gampang idenya
Tinggal ngeplek...plek....
tembangpribumi wrote on Feb 18
zdanska said
Belum lagi di sinetron mbak hehe.... Jijay bajay :P
oh iyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......gila ya??
amaltiagunawan wrote on Feb 18
mbak,,,tumben wis tangi ki???umbah umbah sik mbak
tembangpribumi wrote on Feb 18
Kayaknya rata-rata disemua industri perfilman dunia prinsipnya hampir sama
Ning nek Amerika ndak terlalu banyak mungkin ya...
tembangpribumi wrote on Feb 18
rozny said
miskin tema
kurang kreatif
tembangpribumi wrote on Feb 18
luweh,,,,,,wong aku nontone ming tukul,,,,,,anggere tukul ora tiru tiru wae,,,
sampeyan ki podo karo aku Pak!!
tembangpribumi wrote on Feb 18
jz12bhp said
the gladiator ---> tukang gelut
hahahahhaahhah
tembangpribumi wrote on Feb 18
jsops said
Jadi santai saja dan mari ber "ha ha ha" sebab semua orang sudah pusing kepalanya .
Emang semua harus ditanggapai dengan santai mas....Soale urip wis serba angel...hehehehheeh
tembangpribumi wrote on Feb 18
mbak,,,tumben wis tangi ki???umbah umbah sik mbak
Asem ik!! Umbah2 ki sore yooo....Nek yak ,adem :P
amaltiagunawan wrote on Feb 18
encet banet......
tembangpribumi wrote on Feb 18
nGEMPI...terus nge Gym diluk...golek upo diluk......saiki sarapan sik:P
dymloes wrote on Feb 19
sampai saat ini..untuk film indonesia New Era (ini cuma istilah saya buat perfilman indonesia yang baru bangkit sekarang ini hehe..) cuma film Mengejar Matahari yang mampu menarik perhatian saya...
yuda96 wrote on Feb 19
film Indonesia, jadi ngebosenin, mbak..
banyak horornya, kaya ga ada ide aja..
ambaro wrote on Feb 19
Film Indonesia terakhir yg kutonton dibioskop "Ada Apa dg Cinta". Malas bgt nonton film Indo apalagi sinetronnya yachhh..... (kecuali Bajay Bajuri, hehehe....)
nggambleh wrote on Feb 19
luweh,,,,,,wong aku nontone ming tukul,,,,,,anggere tukul ora tiru tiru wae,,,
Bosen nonton thukul ......... wis garing ..... mending nonton kono ..... heheheh
tembangpribumi wrote on Feb 19
dymloes said
sampai saat ini..untuk film indonesia New Era (ini cuma istilah saya buat perfilman indonesia yang baru bangkit sekarang ini hehe..) cuma film Mengejar Matahari yang mampu menarik perhatian saya...
saya lebih suka Arisan, soalnya hanya itu yg saya tonton...Ohya kemaren beli DVD nya Nagabonar..actingnya Dedy Miswar memukau!!
hanyasebuahangka wrote on Feb 19
terlepas dari semua itu..., kayaknya 'film-film karya anak bangsa' ini tak jauh beda dengan mie instan...yang tinggi msg dan rendah gizi...hoho...
tembangpribumi wrote on Feb 19
yuda96 said
film Indonesia, jadi ngebosenin, mbak..
banyak horornya, kaya ga ada ide aja..
harus bener2 milih..................
tembangpribumi wrote on Feb 19
ambaro said
Film Indonesia terakhir yg kutonton dibioskop "Ada Apa dg Cinta". Malas bgt nonton film Indo apalagi sinetronnya yachhh..... (kecuali Bajay Bajuri, hehehe....)
haiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh...capa culuh nonton pelem ABG ...hahahahahahah
dymloes wrote on Feb 20
saya lebih suka Arisan, soalnya hanya itu yg saya tonton...Ohya kemaren beli DVD nya Nagabonar..actingnya Dedy Miswar memukau!!
o iya.. lupa!! Naga Bonar !!.. dari yang pertama dulu sampe yang terbaru ini saya juga suka mbak! kok bisa lupa yaa.. hehehe.. tambahan dikit.. film2nya Alm.Benyamin juga saya suka... Arisan juga pernah nonton dan bagus....
tembangpribumi wrote on Feb 20
dymloes said
o iya.. lupa!! Naga Bonar !!.. dari yang pertama dulu sampe yang terbaru ini saya juga suka mbak! kok bisa lupa yaa.. hehehe.. tambahan dikit.. film2nya Alm.Benyamin juga saya suka... Arisan juga pernah nonton dan bagus....
arisan rada ber-tele2...dan aktingnya kurang bagus di banding Deddy Mizwar!!
dymloes wrote on Feb 20
aktingnya kurang bagus di banding Deddy Mizwar!!
dimana2 senior pasti lebih hebat dari pada junior.. lebih kaya pengalaman..hehe..
tembangpribumi wrote on Feb 20
yang tinggi msg dan rendah gizi...hoho...
jadi................JANGAN DITONTON, BERBAHAYA UNTUK KESEHATAN!! Gitu yak? hahahahhahahaah
jonnyherbart wrote on Feb 21
Manusia Enam Juta Dollar (1981)-The Six Million Dollar Man (1973/1974)

CHIPS dalam Kejutan (1982)-C.H.I.P.S (1977) ===>>>> film dono kasino indro adalah film favorit gw sampe sekarang, hihihihihiihi... :-D
tembangpribumi wrote on Feb 21
hmmm banyak sekali ya....barang contekan....ternyataaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
jz12bhp wrote on Feb 22
bwahahahahhahahahahhaha,,,,,,ketoro nek jogja
ho..oh je dab........ panyu jogja tur mebo saleg hihihi....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help