Kompas,minggu 14 jan 2007Ada Apa dengan Film Kita...
BRE REDANAFilm ”Ekskul” yang disutradarai Nayato Fio Nuala diributkan karena musiknya sangat mirip film Korea, ”Taegukgi” (2005). Soal ”kemiripan” dengan film luar negeri, sebenarnya terjadi pada banyak film Indonesia, bukan saja pada musiknya, tetapi juga gayanya, bahkan dengan seluruh unsurnya. Sikap suka meniru ini, jangan-jangan memang melekat pada dunia perfilman Indonesia. Atau, yang terjadi di dunia film itu cermin semangat epigonis masyarakat kita?Soal musik terlebih dahulu. Coba Anda senandungkan lagu Love Story dari film dengan judul sama, seperti ini: ”Where do I begin....” Setelah itu, senandungkan lagu dari film Pengantin Remaja (1971) yang disutradarai Wim Umboh. Dendangkan lagu dari film itu yang digarap oleh Idris Sardi: ”Romi dan Yuli....” Hayo, bagaimana kedengaran melodinya? ”Agak” mirip kan.... Belum lagi film itu secara keseluruhan. Pada masanya, film ini memang dianggap ”jiplakan” Love Story (1970) garapan sutradara Arthur Hiller. Wim Umboh sendiri, seperti dicatat oleh JB Kristanto dalam Katalog Film Indonesia 1926-1995, mengaku, ia diilhami oleh cerita Romeo and Juliet. Pengantin Remaja menerima penghargaan Golden Harvest Award, FFA 17, tahun 1971 di Taipei untuk Film Terbaik. Widyawati sebagai pemeran utama wanita menjadi Runner Up Aktris Terbaik PWI 1971- 1972.Tulisan ini tidak hendak mempersoalkan apakah sebuah karya ”diilhami”, ”diadaptasi”, ”diterjemahkan”, ”dipengaruhi”, ”dirasuki”, ”diindonesiakan”, atau ”dicontek” dari film luar negeri. Di sini cuma akan diperlihatkan, sejumlah film yang rasa-rasanya mirip dengan film luar negeri. Mirip ini pengertiannya: kalau kita menonton film itu, tiba-tiba kita jadi teringat film lain.Taruhlah kalau kakek kita, pada tahun 1950-an menonton film Djandjiku (1956), yang diproduksi Persari (perusahaan film ini digerakkan oleh salah satu perintis film Indonesia, yakni Djamaluddin Malik). Orang yang akrab dengan film-film India pada masa itu niscaya akan langsung mengasosiasikan Djandjiku dengan film India Vachan, yang dalam bahasa Indonesia artinya memang ”janji”.Kembali pada buku Katalog Film Indonesia, di sini ditulis, Dalam keadaan dilanda popularitas film India, Persari mendatangkan 12 teknisi India. Jadilah film ini yang merupakan sebuah ’film India terjemahan Persari’, tulis sebuah majalah. Menurut buku itu, koran lain berkomentar, Film ini lebih tepat dinamakan film India dengan pemain Indonesia. Pemain-pemain dalam film itu adalah Rd Mochtar, Titien Sumarni, A Hadi, Awaludin, dan Tina Melinda.Masih di masa para perintis, baik juga diingat karya Usmar Ismail, Tamu Agung (1955), yang juga diproduksi Perfini. Film ini mengambil cerita dari Nikolai Gogol. Sebelum itu, di Amerika muncul film dengan sumber cerita yang sama, yang digarap oleh sutradara Henry Koster, dengan judul The Inspector General (1949).Dari lapisan perintis, kita masuk ke generasi berikutnya. Tahun 1961, muncul film Kasih Tak Sampai (Turino Djunaidy) produksi PT Sarinande Films. Film itu, bagi yang mengingatnya, adalah Imitation of Life (1959) dari Universal International yang disutradarai Douglas Sirk. Penokohannya mirip-mirip, yakni dua gadis remaja, satu anak majikan, satu anak pembantu, yang sebetulnya adalah saudara kembar. Dalam Imitation of Life, salah satu si remaja adalah Sandra Dee, sedangkan dalam Kasih Tak Sampai sosok itu adalah Rima Melati. Sosok pembantu dalam Imitation of Life diperankan bintang kulit hitam, Juanita Moore, dalam Kasih Tak Sampai sosok itu diperankan pesinden Sunda terkenal saat itu, Upit Sarimanah—yang kebetulan sebagai orang Sunda juga tak putih-putih amat kulitnya.Tahun 1970-an—yang disebut sebagai booming film Indonesia— selain Pengantin Remaja, ada sejumlah film lagi yang mengingatkan pada film-film luar negeri. Sebut, misalnya Kemasukan Setan (1974), sutradara Lukman Hakim Nain, yang tentu mengingatkan orang pada The Exorcist (1973) karya sutradara William Friedkin. Kisahnya memang betul-betul mirip. Kalau dalam The Exorcist yang kemasukan setan adalah Linda Blair, dalam Kemasukan Setan yang kerasukan Dewi Rosaria Indah.Daftar masih bisa diperpanjang di periode 1970-an, yang terus berlanjut di era-era berikutnya. Film tahun 1980, Nakalnya Anak-anak (Susilo SWD) adalah The Sound of Music (1965), Bercanda Dalam Duka (1981, sutradara Ismail Soebardjo) adalah Xiong sha/Homicides Criminal Part II (1976), dan seterusnya. Lalu, tahun 1992 ada Asmara (Adisoerya Abdy) yang mengingatkan No Small Affair (1984).Kalau kemiripan-kemiripan itu berlangsung sampai sekarang, akhirnya kita melihat, dari urutan ”bapak” pada tahun 1950-an, dilanjutkan taruhlah ”anak” di tahun 1960-an/1970-an, lalu ”cucu” di tahun 1980-an, dan ”cicit” di era 2000-an, semuanya suka ”memirip-miripkan” filmnya dengan film asing.Ada apa dengan film kita? Ada apa dengan bangsa kitaSejumlah Film Indonesia yang Mirip Film Luar NegeriTamu Agung (1955)-The Inspector General (1949)Djandjiku (56)-Vachan (1950-an)Kasih Tak Sampai (1961)-Imitation of Life (1959)7 Pahlawan (1963)-The Magnificent Seven (1960)Pengantin Remaja (1971)-Love Story (1970)Kemasukan Setan (1974)-The Exorcist (1973)Kehormatan (1974)-DaagKawin Lari (1974)-The Glass Menagerie (1950)Leila Majenun (1975)-West Side Story (1961)Nakalnya Anak-anak (1980)-The Sound of Music (1965)Bercanda dalam Duka (1981)-Xiong sha/Homicides Criminal Part II (1976)Bila Hati Perempuan Menjerit (1981)-Lipstick (1976)Manusia Enam Juta Dollar (1981)-The Six Million Dollar Man (1973/1974)CHIPS dalam Kejutan (1982)-C.H.I.P.S (1977)Pesona Natalia (1986)-Return to Eden (1986)Asmara (1992)-No Small Affair (1984) Diambil dari salah satu forum
 | Kebiasaan yang sudah berubah menjadi budaya... Menyedihkan... |
 | soale gak mumet kalo niru dan gampang idenya |
 | Belum lagi di sinetron mbak hehe.... Jijay bajay :P |
 | Kayaknya rata-rata disemua industri perfilman dunia prinsipnya hampir sama deh, ngambil sini jual sana. Untuk Amerika: the departed, the ring, godzilla, taxi cs. Hongkong malah mbahe tiru-tiru, india ra ngikuti, Eropa ra nduwe referensi .... heheheh |
 | luweh,,,,,,wong aku nontone ming tukul,,,,,,anggere tukul ora tiru tiru wae,,, |
 | film2 barat yo wis diadaptasi wong Jowo, misale : die hard ---> angel matine mission impossible ---> utusan sing tangeh lamun taxi driver ---> supir taksi the gladiator ---> tukang gelut smackdown ---> bantingan lan liyo-liyane.......  |
 | jsops wrote on Feb 18, edited on Feb 18 Puisi Ada apa Ada
Ada apa film Indonesia , apa ada film Indonesia Ada apa musik Indonesia , apa ada musik Indonesia Ada apa Indonesia , apa ada Indonesia Ada apa orang Indonesia , apa ada orang Indonesia
Ada apa mbak tiwi , apa ada mbak tiwi wong mbak tiwie itu istri saya , dia sedang garuk-garuk kepala Jadi santai saja dan mari ber "ha ha ha" sebab semua orang sudah pusing kepalanya . |
 | mbak,,,tumben wis tangi ki???umbah umbah sik mbak |
 | luweh,,,,,,wong aku nontone ming tukul,,,,,,anggere tukul ora tiru tiru wae,,,  sampeyan ki podo karo aku Pak!! |
 | nGEMPI...terus nge Gym diluk...golek upo diluk......saiki sarapan sik:P |
 | sampai saat ini..untuk film indonesia New Era (ini cuma istilah saya buat perfilman indonesia yang baru bangkit sekarang ini hehe..) cuma film Mengejar Matahari yang mampu menarik perhatian saya... |
 | film Indonesia, jadi ngebosenin, mbak.. banyak horornya, kaya ga ada ide aja.. |
 | Film Indonesia terakhir yg kutonton dibioskop "Ada Apa dg Cinta". Malas bgt nonton film Indo apalagi sinetronnya yachhh..... (kecuali Bajay Bajuri, hehehe....) |
 | luweh,,,,,,wong aku nontone ming tukul,,,,,,anggere tukul ora tiru tiru wae,,,  Bosen nonton thukul ......... wis garing ..... mending nonton kono ..... heheheh |
 | terlepas dari semua itu..., kayaknya 'film-film karya anak bangsa' ini tak jauh beda dengan mie instan...yang tinggi msg dan rendah gizi...hoho... |
 | Manusia Enam Juta Dollar (1981)-The Six Million Dollar Man (1973/1974)
CHIPS dalam Kejutan (1982)-C.H.I.P.S (1977) ===>>>> film dono kasino indro adalah film favorit gw sampe sekarang, hihihihihiihi... :-D
|
 | hmmm banyak sekali ya....barang contekan....ternyataaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa |
| |